Dua orang pasangan suami – istri ( keduanya orang Batak ) sedang bertengkar, membicarakan adik dari suami yang suka meminjam uang yang tak pernah dilunasi. “Ai nga hudongkon tu ho, unang sai lehon hepengmi tu adekmu, ale tong do, sai dilehon ho.”, kata si Ibu. dan si Bapak menyahut, “Na maminjam do ibana. Dang hulehon antong, na hupapinjam do.” Si Ibu geram dan bersuara agak keras (dalam koor kira- kira mezzo forte lah), “Dang hea dipaulak ibana. Ido na didok maminjam ??”
Pertengkaran ini terjadi di dalam mobil, si Bapak yang membawa mobil, dan si Ibu berada di depan. Ketiga anak mereka, ada di belakang. Anak pertama, kelas 2 SMA, sibuk dengan BBnya. Anak kedua, 3 SMP, melihat keluar, sambil melamun, memikirkan jawaban ya atau tidak atas penembakan seorang teman laki- lakinya, dan yang paling kecil, 6 SD, bermain PSP.
Ketiga anak mereka sibuk dengan kegiatan masing- masing. Tidak merasa terganggu, dan yang hanya mereka tahu adalah mamanya sedang marah. Tidak ada respon dari mereka sama sekali. Tapi mereka punya alasan kuat untuk tidak merespon pertengkaran orang tuanya. Mereka tidak mengerti/ tidak tahu apa yang orang tua mereka katakan. Ibaratnya seperti saya melihat pertengkaran 2 orang India. Dan ini bukan kejadian pertama, tapi sudah sering sekali dialami oleh keluarga ini. Kira- kira 7x seminggu lah.
Begitulah nasib bahasa Batak sekarang. Bahasa Batak merupakan bahasa rahasia 2 orang tua terhadap anak- anaknya. Ketika mereka membicarakan sesuatu, dan mereka pikir itu tidak layak diketahui oleh anaknya, mereka berbahasa batak dengan fasih. Ketika mereka berbicara biasa ke anak- anaknya jarang sekali berbahasa Batak.
Saya pernah makan di warung Padang, di Surabaya. Ada anak kecil, mungkin sekitar kelas 1-2 SD. Berbicara ke kakeknya dengan bahasa yang 1 kata pun tidak kumengerti. Dan saya yakin, itu bahasa Padang. Terlihat dari dialek pengucapan setiap katanya. Iri melihat anak ini, tinggal di Surabaya, yang semua orang berbahasa jawa, tapi masih bisa berbahasa Padang.
Ambal- ambal ni hata (baca:by the way), budaya suatu suku dapat bertahan, bila bahasa dari suatu suku itu masih diketahui. Ketika bahasa batak hanya dijadikan bahasa rahasia oleh kita khususnya orang tua batak, percayalah kalian mempercepat punahnya budaya batak.

Serasa ditohok dengan cerita ini….uuuhhhhhh…..!
[Reply]
Tutu hian na didokkon di blog on.
LIKE THIS ma tu na manurati blog on
[Reply]
admin Reply:
October 17th, 2010 at 4:58 pm
mauliate lae. na halak farmasi do lae? hubereng akka artikel ubat di blog ni lae.
[Reply]
syukurlah,meski aku dbesarkan d jakarta,sedikit banyak aku msh bs berkomunikasi dgn bhs batak,krn terbiasa oleh org tua yg brbahasa batak dgn kita sjk kecil.
awalnya agak minder dgn bahasa batakku yg marpasir-pasir alias belepotan,tp klo tdk dbiasakan,akan tdk bs sm sekali
puiji Tuhan,tiap ktemu org batak dmanapun aku usahakan brbahasa batak,ini trjadi waktu aku berkunjung k pnambangan emas d bayuwangi selatan,jauh dr kota,dsana brtemu dgn ito marga sihombing,bingung dia melihat style aku yg metropolis tp lugas brbahasa batak d kampung orang lain,meski msh marpasir2,katanya mrupakan pmandangan yg jarang trjadi..
[Reply]
admin Reply:
November 26th, 2010 at 1:57 am
Salutlah buat kak Sisca. Mudah2an bisa menjadi inspirasi buat yg lain.
[Reply]